Rabu, 30 Mei 2018

AL - MASIH

TUHAN menyebut dalam AL-QUR'AN beberapa NABINYA yang memiliki tingkat keistimewaan di banding dengan NABI-NABI lainnya. Mereka itu adalah NABI MUHAMMAD SAW, NABI IBRAHIM, NABI MUSA, NABI NUH, dan NABI ISA AS, mereka di gelar sebagai NABI ULU AL-'AZM, tokoh-tokoh yang berhati teguh (QS, AL-AHQAF, 35). Di antara kelima NABI ULU AL- 'AMI ini NABI ISA AS yang memiliki nilai keistimewaan tersendiri.
Salah satu pandangan AL-QUR'AN mengenai tokoh besar ini adalah, beliau adalah manusia yang di lahirkan tanpa ayah, sehingga di sebut sebagai ISA BIN MARYAM. Di angkat sebagai NABI di usia sangat muda, ada riwayat menyebut usia beliau 30 tahun. Di kenal sebagai NABI yang sangat ZUHUD karena tidak memiliki harta benda dalam hidupnya, laparnya (PUASA) lebih banyak dari pada makannya, mukanya selalu berseri-seri penuh KETAWADHUAN. Di kalangan para SUFI, NABI ISA AS. sering menjadi rujukan di dalam hidup ZUHUD di dunia ini.
Pada kesempatan lain, seorang muridnya bertanya, "Apakah yang paling berharga bagi Manusia?"."AKAL" kata NABI ISA AS. "Sebab dengan akal manusia bisa menyejahterakan hidupnya". "Kalau tidak ada?" Tanya si murid. "Sahabat yang mau memberi nasehat". "Kalau tidak ada?". "Harta yang halal dan dapat di banggakan". "Kalau tidak ada?". "Diam". "Kalau tidak bisa diam?". "Mati". Jawab NABI ISA AS. "Sebab, Manusia jika tidak punya apa-apa tetapi tidak bisa diam, biasanya mulutnya hanya akan di pakai untuk mengeluh dan dengki".
NABI ISA AS. menempatkan AKAL sebagai derajat yang tinggi yang harus di miliki manusia. Dengan akal itulah manusia membedakan yang baik dan buruk dalam hidupnya. Beliau mencela perilaku manusia yang tidak menggunakan akalnya, hanya mengandalkan ke egoan nafsunya. Dalam suatu perkataannya, BELIAU bersabd : "Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan perkenaan TUHAN; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan perkenaan TUHAN; juga aku menghidupkan orang mati dengan perkenaan TUHAN; namun ketika aku obati orang dungu, aku tidak mampu mengobatinya!" Maka Beliau pun di tanya, "Wahai RUH ALLAH, siapa orang dungu itu?". Beliau menjawab : "Yaitu orang yang kagum dengan pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua ke unggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya, yang memastikan semua kebenaran semua untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya".
Dungu yang di maksud di atas bukanlah dungu biasa, melainkan kedunguan berganda atau biasa di istilakan Al-Ahmaq. Di kalangan SUFI istilah Al-Ahmaq sama dengan perkataan Jahilun Murakkab. Mereka inilah yang biasa di gambarkan sebagai "Laa Yadri, Wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri". "Orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu". Orang seperti inilah, selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya. Inilah Manusia yang selalu mengagumi diri sendiri ('Ujub) dan merasa diri selalu benar, tidak pernah salah.
Apa yang di uraikan dari tutur hikmah sepenggal kisah dari AL-MASIH menyadarkan kepada kita untuk menjadikan dunia ini sebagai sarana ibadah, bermanfaat buat ummat dan menjauhkan diri serta tidak bergaul dengan kelompok AL-AHMAQ ini. Wallahu 'Alam.



Sumber : RISALAH, MUHAMMAD KHIDRI ALWI
                FAJAR, JUM'AT 30 MARET 2018

0 komentar:

Posting Komentar

About

Blogroll